Jurnal Al Marhalah

HERMENEUTIK NASR HAMID ABU ZAYD DALAM MEMAHAMI AL-QURAN

(Studi kitab Mafhūm al-Nash Dirāsat fi ‘Ulūm al-Qur’ān)

 

Oleh: Nabil, S.S, M.Ag

ABSTRAK

 

Al-qur’an merupakan teks suci dari Allah SWT, yang selalu dijadikan pedoman  oleh manusia disetiap tempat dan waktu (Kontekstual), melihat problema dunia dan masyarakat yang semakin kompleks, maka al-Qur’an setidaknya harus bisa disesuaikan dengan kondisi waktu dan zaman pada masa sekarang. Interpretasi al-Qur’an harus mampu menjawab persoalan-persoalan sosial, ekonomi, budaya, politik, agama dan lain sebagainya. Nasr Hamid Abu Zayd merupakan aktor hermeneutik yang mencoba mengkontekstualisasikan al-Qu’ran pada masa modern. Abu zayd menginginkan interpretasi al-Qur’an menggunakan paradigma baru yang didasarkan atas teori sastra modern dan membuat al-Qur’an menjadi teks yang terbuka untuk diinterpretasi tanpa adanya otoritas dari golongan ulama tertentu, agar interpretasi terhadap teks al-Qur’an dapat menyentuh isu yang paling sensitif di kalangan umat Islam.

 

Keywords : Hermeneutika, Al-Qur’an, Interpretasi.

 

A. Pendahuluan

Ketika penafsiran al-Qur’an menemukan kembali gairahnya dengan kehadiran Hermeneutika, kekhawatiran terhadap metode tafsir ini juga begitu mengemuka. Tulisan ini hendak memaparkan salah satu metode tafsir hermeneutika yang digagas oleh Abu Zaid Untuk memberikan gambaran bagaimana sesungguhnya metode hermeneutika  al-Qur’an yang dianggap mengkhawatirkan itu. Abu Zaid dalam kajiannya berkesimpulan bahwa aktifitas tafsir dan ta’wil yang menitikberatkan pada upaya memahami teks hanyalah semata-mata untuk menarik teks ke horizon sang mufasir. Artinya, teks menjadi obyek yang pasif dan semata-mata menjadi proof text (dalil) bagi pembenaran dan pendukung gagasan tertentu tanpa memperhatikan konteksnya. Sebagai konsekuensinya, terjadi pengabaian esensi teks dan mengorbankannya demi penafsiran tertentu. Berangkat dari kesimpulan ini, Abu Zaid menegaskan pentingnya tekstualitas al-Qur’an. Pengabaian atas tekstualitas al-Qur’an akan mengarah kepada pembekuan makna pesan dan kepada pemahaman mitologis atas teks. Menurutnya, teks adalah realitas, konsepsi-konsepsi adalah realitas, dan makna juga realitas. Berdasarkan pandangan tersebut, maka Abu Zaid sampai pada kesimpulan bahwa al-Qur’an adalah “produk budaya”. Sampai disini, kekhawatiran terhadap hermeneutika dapat dimengerti. Tapi, lebih jauh perlu untuk melihat teori makna dan signifikansi dari hermeneutik al-Qur’an Abu Zaid. Keduanyanya menunjukkan keseimbangan antara pencarian makna asal teks dan peran pembaca dalam penafsiran objektif. Dengan gambaran model hermeneutika yang seimbang ini, hermeneutik lebih dapat diterima dalam rangka memproyeksikan pengembangan motode pembacaan al-Qur’an kontemporer.

Dalam konteks masyarakat kekinian, banyak para pemikir muslim modern yang berpendapat bahwa hermeneutika merupakan keniscayaan. Dengan hermeneutika pendekatan, pemikiran, pemaknaan maupun interpretasi terhadap teks-teks keagamaan bisa lebih dinamis, kontekstual, inklusif, dan relevan dengan masyarakat kekinian. Dalam rangka itu, menurut Nasr Abu Zaid, diperlukan “pembacaan produktif” (al-qira’ah          al-muntijah) dalam melakukan upaya melakukan interpretasi terhadap teks, di samping hermenutika, dalam pengertian sebagai the process of deciphering which goes from manifest content and meaning to latten or hidden meaning.[i]

 

B. Hermeneutika Sebagai Metode Tafsir

Mengenai hermeneutika sebagai metode dalam penafsiran al-Qur’an dalam konteks Islam, hermeneutika dimaknai sebagai teori dan metode yang memfokuskan dirinya pada problem pemahaman teks. Dikatakan problem, mengingat sejak awal diwahyukannya, al-Qur’an dirasa sulit untuk dipahami dan dijelaskan. Problem tersebut semakin rumit manakala Rasulullah wafat, sehingga tidak ada lagi otoritas tunggal yang menggantikannya. Oleh sebab itu penggunaan hermeneutika dalam studi al-Qur’an tidak bisa diabaikan lagi. Bahkan saat ini, hermeneutika al-Qur’an dinyatakan telah menjelma menjadi kajian interdisiplin yang memerlukan penerapan ilmu-ilmu sosial dan humanitas.[ii]

Menurut Abu Zaid hermeneutika mengandung dua hal; pertama adalah bertujuan untuk menemukan makna asal (dalalatuha al-asaliyyah) dari sebuah teks dengan menempatkannya pada sebuah konteks sosio-historisnya. Kedua adalah bertujuan untuk mengklarifikasi kerangka sosio kultural kontemporer dan tujuan-tujuan praktis yang mendorong dan mengarahkan penafsiran.

Arti penting hermeneutik, dalam kaitannya dengan al-Qur’an sebagai teks, terletak pada perannya yang proporsional dalam menetapkan pertanyan-pertanyaan mengenai refleksi teologis sebagi prosedur penafsiran. Metode yang kedua adalah estetik. Tatkala hermeneutik bersinggungan dengan aturan-aturan penafsiran, maka tugas estetik adalah meneliti tentang fenomena. Fenomena yang dimaksud adalah setiap gejala yang ada di alam sekitar. Gejala tersebut kemudian menjadi bahan renungan ketika masing-masing dari gejala tersebut memiliki signifikasi dalam hal tertentu.[iii]

Ketika sebuah teks dibaca seseorang, disadari atau tidak akan menimbulkan interpretasi terhadap teks itu. Dalam islam, seringkali terjadi problem dalam memahami teks al-Qur’an, terlebih lagi setelah Nabi Muhammad wafat, karena ia merupakan otoritas tunggal untuk menjelaskan al-Qur’an. Dalam sejarahnya, para sarjana Muslim mengembangkan beberapa disiplin ilmu untuk memahami al-Qur’an yaitu Tafsir dan Ilmu Al-Qur’an (Ulum al-Qur’an dan Ulum al-Tafsir), namun dalam perkembangannya, hermeneutika[iv] justru menjadi salah satu alternatif untuk memahami al-Qur’an, dengan kata lain hermeneutika termasuk ke dalam dua disiplin ilmu di atas.  

Secara akademis, rekonstruksi Abu Zaid bermula dengan karya Mafhum al-Nash Dirasah Fi Ulum al-Qur’an yang merupakan mata rantai dari dua karya sebelumnya, yaitu mengenai ta’wil dalam tradisi Sufi (Ibnu Arabi) dan mengenai majaz (metafora) dalam tradisi kalam Mu’tazilah. Dalam kedua kajian ini, ia menemukan kesimpulan yang sama, bahwa penafsiran, baik berdasarkan rasio (Mu’tazilah), maupun berdasarkan instuisi (Sufi) tidak bisa dilepaskan dari berbagai faktor sosial politik dan kultural di mana penafsir berada.[v] Dia juga berkesimpulan bahwa aktifitas tafsir dan ta’wil yang menitikberatkan pada peran dalam memahami teks hanyalah semata-mata untuk menarik teks ke horizon (cakrawala) sang mufasir. Artinya, teks menjadi obyek yang pasif dan semata-mata menjadi proof text (dalil) bagi pembenaran dan pendukung gagasan tertentu tanpa memperhatikan konteksnya. Sebagai konsekuensinya, tegas Abu Zaid, “terjadi pengabaian esensi teks dan mengorbankannya demi penafsiran tertentu.”[vi]

Selain itu, rekonstruksi Abu Zaid tidak bisa dilepaskan dari konteks wacana keagamaan kontemporer (khususnya di Mesir) dalam menyikapi turas (warisan intelektual) dan gelombang tajdid (pembaruan). Seiring dengan hal tersebut, Abu Zaid memandang perlu rekonstruksi ilmu-ilmu al-Qur’an tradisional secara kritis dan dilandasi kesadaran ilmiah terhadap turas (al-wa’y al-‘ilm bi al-turats). Hal ini karena ulum al-Qur’an sebagai disiplin ilmu yang bersentuhan langsung dengan teks (al-Qur’an) dan merupakan ilmu-ilmu induk di mana teks sebagai pusat kajiannya.[vii]

Rekonstruksi Abu Zaid mengenai al-Qur’an diaplikasikan dalam memposisikan teks al-Qur’an dengan metode hermenutika yang disebut dengan literary hermeneutic, serta pentingnya pemahaman terhadap makna dan signifikansi.

Pada dasarnya penggunaan hermeneutika dalam menginterpretasi al-Qur’an merupakan “trend” baru dalam Islam, sebut saja Amin al-Khuli (wafat 1967), Hasan Hanafi (wafat 1986) dan Abu Zaid (wafat 2010), sebagai tokoh-tokoh yang mempopulerkan hermeneutik, tokoh yang terakhir disebut merupakan sarjana yang belakangan ini banyak dipelajari oleh peneliti dari kalangan Islam maupun di luar Islam.

Abu Zayd berupaya untuk mengkaji teks al-Qur’an dalam sinaran linguistik dan sastra modern. Dalam proyek hermeneutikanya, Ia berupaya mempertemukan kritik terhadap al-Qur’an  dengan pendekatannya terhadap teks al-Qur’an. Menurutnya, studi al-Qur’an adalah sebuah bidang keilmuan interdisipliner, karena perkembangan studi al-Qur’an tidak bisa terlepas dari disiplin ilmu-ilmu Islam terutama ilmu tata bahasa (Nahwu, Sharaf), Fiqh, Filsafat dan sufisme. Menurut Abu Zaid, studi Islam dan al-Qur’an didasarkan pertama dan utama atas “teks.” Studi tentang al-Qur’an sebagai sebuah “teks” linguistik meniscayakan penggunaan studi linguistik dan sastra. Oleh karenanya Abu Zaid banyak mengadopsi teori-teori muktahir dalam bidang linguistik, semiotik dan hermeneutik dalam kajian-kajiannya tentang al-Qur’an.[viii]

Pendekatan sastra atas teks al-Qur’an sesungguhnya bukan merupakan hal yang baru. Dalam bentuknya yang sederhana, pendekatan ini telah dipergunakan sejak abad-abad pertama Islam, ketika  ̒Abdullah ibn  ̒Abbas (wafat 687 M) menggunakan puisi pra-Islam untuk menginterpretasikan beberapa teks al-Qur’an. Ibn  ̒Abbas berkata: “apabila anda bertanya kepadaku tentang kata-kata al-Qur’an yang asing, carilah ia dalam puisi [pra-Islam] karena puisi adalah diwan-nya orang Arab.[ix] Namun dalam perjalanan sejarah pendekatan sastra agak dipinggirkan, baik oleh para intelektual Muslim ‘reformis’ maupun konservatif. Muhammad  ̒Abduh, misalnya, dianggap sebagai salah seorang yang sangat keras mengkritik pendekatan sastra ini. Interpretasi al-Qur’an, menurutnya, bukanlah tempat di mana para ahli bahasa maupun sastrawan mempertontonkan keahlian dan kepintarannya, karena al-Qur’an merupakan kitab bimbingan religius dan spiritual (hidayah) dan bukan buku sastra atau filsafat.

Kritik  ̒Abduh terhadap pendekatan sastra ini dilawan oleh Amin al-Khuli (wafat 1967) yang kelanjutan pemikiran al-Khuli diadopsi oleh Abu Zaid. Al-Khuli mengecam bahwa ̒Abduh tidak menyadari bahwa seseorang tidak akan bisa mendapatkan bimbingan religius dan spiritual (hidayah) al-Qur’an kecuali jika dia mengetahui makna literal teks sebagaimana ia dipahami pada masa pewahyuannya. Al-Khuli mengembangkan sebuah pendekatan sastra dalam menginterpretasikan teks al-Al-Qur’an (al-manhaj al-adabi fi al-tafsir) dan sebuah teori tentang hubungan antara linguistik dan interpretasi al-Qur’an.[x]

Abu Zayd meyakini bahwa satu-satunya cara untuk memahami dan menginterpretasikan al-Qur’an secara “objektif” adalah dengan menerapkan pendekatan yang diajukan al-Khuli di atas. Ia juga percaya bahwa studi sastra (al-dirasah al-adabiyyah) atas teks al-Qur’an, dimana konsep “teks” mempunyai posisi yang sentral, sangatlah penting, karena ia membimbing seseorang ke arah penggunaan kesadaran ilmiah (al-way al-ilmi).[xi]

Abu zayd memulai dengan sebuah proposisi tentang hubungan antara teks (nashsh) dan interpretasi (ta’wil). Menurutnya, teks dan interpretasi itu seperti dua sisi dari satu mata uang: tidak terpisahkan. Dengan demikian, teori interpretasi tidak dapat dipisahkan dari teori teks. Hal inilah yang menurut Abu Zayd, studi al-Quran klasik abaikan, sering teks terpisah dari interpretasi. Sedangkan interpretasi atau ta’wil dianggap sebagai tindakan yang dikecam (madzmum), bahkan dianggap sebagai kecaman dan seringkali mengindikasikan kemurtadan (riddah). Abu zayd meletakkan “konsep teks” (mafhum al-nashsh) kembali sebagai “pusat” dalam riset akademik Islam dengan menolak teori tradisional tentang al-Qur’an sebagai sebuah teks tertutup dan, sebaliknya, lebih membahas al-Qur’an sebagai teks terbuka dan meniscayakan interpretasi sebagai kunci untuk membuka dunia teks. Dia berupaya untuk merekonstruksi sebuah teori hermeneutika al-Qur’an yang sistematik, berdasarkan atas pendekatan linguistik dan sastra, di mana teori teks dan interpretasi mempunyai posisi sangat sentral.[xii]

Sebuah penafsiran dan usaha pemahaman terhadap Al-Qur’an jika memakai metode hermeneutika, selalu terdapat tiga faktor yang senantiasa dipertimbangkan yaitu pengarang, teks dan penafsir, menurut Abu Zayd, tidak dapat dipersatukan secara mekanik diantara unsur-unsurnya. Hal ini karena hubungan antara berbagai unsur ini mempresentasikan problem hakiki yang ingin dianalisis oleh Hermeneutika, pada gilirannya Hermeneutika memberikan fundamen baru terhadap hubungan antar berbagai unsur itu.[xiii]

Oleh karena itu, Abu Zayd melihat bahwa problem teks ini akan semakin rumit manakala kita pertanyakan tentang hubungan trilogi tersebut dengan realitas yang didalamnya benar-benar terjadi dua proses; penciptaan dan penafsiran. Batas kerumitan ini akan bertambah jika teks ini tumbuh sampai pada waktu dan realitas yang berbeda dengan zaman dan realitas penafsirnya. Artinya jika pengarang dan penafsir, tumbuh sampai pada dua masa yang berlainan dengan dua realita yang berbeda.[xiv] Namun Abu Zayd dapat memaklumi keberagaman interpretasi secara natural tidak dapat dihindari, tapi interpretasi itu seharusnya didasarkan atas konsep objektif tentang teks.

Teori Abu Zayd tentang teks dikembangkan dalam kerangka hubungan antara teks, bahasa, budaya dan sejarah. Sebagai konsekuensi dari pendekatan ini, “dimensi Ilahiah” teks keagamaan berada di luar kajiannya. Teks keagamaan apa pun, termasuk al-Qur’an, dianggap sebagai teks manusiawi, sebagaimana teks linguistik yang lain. Sederhananya, setelah al-Qur’an diturunkan kepada Muhammad, maka al-Qur’an masuk ke dalam dimensi sejarah dan menjadi tunduk pada hukum-hukum yang bersifat historis dan sosiologis. Teks Alqur’an kemudian menjadi manusiawi (humanized/muta’annas). Untuk itu analisis wacana (discourse analysis) dan semiotik menjadi niscaya dalam hal ini. Dalam analisis wacana, teks didefinisikan sebagai sistem tanda linguistik yang memproduksi makna, sementara dalam semiotik, teks mencakup segala macam sistem tanda yang memproduksi makna, seperti simbol, patung, iklan, karikatur dan film. Oleh karena itu, analisis wacana adalah bagian dari semiotik yang mengkaji tanda-tanda linguistik.[xv]

Dalam konstruksi wacana yang dibangun Abu Zayd, ia membedakan dua tipe teks dalam Islam. Pertama, teks primer, dalam hal ini adalah al-Qur’an dan kedua teks sekunder adalah Sunnah Nabi, yaitu komentar terhadap teks primer. Dan mengklasifikasikan teks-teks keagamaan yang diproduksi para Sahabat dan Ulama lainnya sebagai “teks-teks sekunder lain,” yang merupakan interpretasi terhadap teks primer dan sekunder. Oleh karena itu, teks sekunder hanyalah interpretasi-interpretasi atas teks primer; yang tidak bisa berubah menjadi teks primer. Kalau teks primer menggeser teks primer maka manipulasi atas teks primer menjadi tak terkontrol.[xvi]

Produk-produk pemikiran keagamaan para sarjana Muslim, secara langsung maupun tidak, mengarah kepada teks primer (al-Qur’an), karena teks al-Qur’an diyakini sebagai wahyu Allah kepada Muhammad melalui malaikat Jibril dan menjadi teks sentral bagi umat Muslim. Abu Zayd berpendapat fenomena wahyu keagamaan (wahy, tanzil) sebagai bagian dari budaya di mana ia muncul. Dalam budaya praIslam diyakini bahwa fenomena puisi dan ramalan datang dari dunia Jin melalui “wahyu” atau inspirasi. Hal inilah yang menginspirasikan kemungkinan adanya hubungan manusia dengan Jin dan entitas-entitas metafisik lainnya. Dan menurut Abu Zayd, atas dasar inilah fenomena wahyu terlahir. Serta berkat keyakinan ini pemikiran Arab juga akrab dengan konsep malaikat (mala’ikah) yang berkomunikasi dengan Nabi.[xvii] Namun secara kultural dan teologis, al-Qur’an justru mendekontruksi teks sya’ir dan kihānah yang saat itu dianggap mempunyai otoritas kebenaran, dan dengan demikian posisi sentral penyair dan peramal digeser oleh otoritas Nabi sebagai penerima wahyu.

Istilah yang paling sering diungkapkan Abu Zayd dalam memandang hakikat al-Qur’an yaitu teks al-Qur’an adalah “produk budaya”,[xviii] istilah ini didasarkan pada kenyataan bahwa teks muncul dalam struktur budaya tertentu, dan “ditulis” berpijak pada aturan budaya-budaya tersebut, di mana bahasa merupakan sistem pemaknaannya yang sentral. Asal usul Ilahiah tidaklah menafikan hakikatnya sebagai teks linguistik yang terikat oleh waktu dan ruang di dalam sejarah dan masyarakat tertentu.[xix]        Al-qur’an hanyalah sebuah teks historis yang tunduk kepada pemahaman dan interpretasi manusia (pembaca). Dalam hakikatnya sebagai kata-kata Tuhan, ia berada di luar pengetahuan dan sejarah manusia. Di sisi lain Abu Zayd juga menghubungkan antara “bahasa”, “budaya” dan “alam”. Hubungan ini merefleksikan bagaimana bahasa merefleksikan budaya (fenomena dan sistem-sistem tanda) pada satu sisi, dan merujuk kepada alam (yakni entitas-entitas fisikal dan sosial) pada sisi lain. Dalam konteks hermeneutika bahasa al-Qur’an merefleksikan budaya arab abad ketujuh, dan budaya itu merefleksikan atau entitas-entitas fisikal dan sosial pada saat itu. Ketiganya terkait secara melingkar yang takkan pernah putus.

Dari persepsi di atas Abu Zayd menyimpulkan, bahwa al-Qur’an adalah sebuah teks keagamaan yang baku dalam hal kata-kata literalnya (manthūq), namun ketika ia ditundukkan kepada akal manusia ia menjadi sebuah “konsep” (mafhūm), yang kehilangan kebakuannya karena ia bergerak dan menciptakan makna. Kebakua adalah sebuah sifat dari yang absolut dan ilahiah, sedangkan realitas dan perubahan adalah manusiawi. Kata-kata literal teks al-Qur’an bersifat ilahiah, namun ia menjadi sebuah “konsep” yang relatif dan bisa berubah ketika ia dilihat dari perspektif manusia; ia menjadi sebuah teks manusiawi.[xx]

Diturunkannya al-Qur’an berangsur-angsur selama kurang lebih dua puluh dua tahun, mengindikasikan adanya hubungan dialektik antara teks, budaya dan realitas dalam sebuah momen historis tertentu. Ada dua aspek dalam hubungan ini. Pertama adalah “formasi teks” (marẖalah    al-takwīn), di mana budaya dan bahasa menjadi objek. Ini didukung oleh situasi-situasi pewahyuan (asbāb al-nuzūl), yang memberikan kepada pembaca konteks sosial bagi teks. Aspek kedua adalah “fungsi formatif” struktur linguistik teks (marẖalah al-takawwun), di mana teks menjadi subjek, sementara budaya dan bahasa berubah menjadi objek. Dalam konteks inilah, Abu Zayd mengatakan bahwa          al-Qur’an adalah sebuah “produk budaya” (al-muntaj        al-tsaqafi) dan, pada akhirnya, sebuah “produser budaya” (muntij al-tsaqafah).[xxi]

 

C. Kesimpulan

Kesimpulan dari penulis, bahwa Abu zayd menginginkan interpretasi al-Qur’an menggunakan paradigma baru yang didasarkan atas teori sastra modern dan membuat al-Qur’an menjadi teks yang terbuka untuk diinterpretasi tanpa adanya otoritas dari golongan ulama tertentu, agar interpretasi terhadap teks al-Qur’an dapat menyentuh isu yang paling sensitif di kalangan umat. Dan penggunaan kritik dan analisis sastra dalam membedah      al-Qur’an dianjurkan karena ia merupakan produk budaya yang bersifat manusiawi. Namun patut diketahui Abu Zayd sangat mengutuk keras terhadap interpretasi yang dilahirkan demi kepentingan-kepentingan ideologis melainkan harus disandarkan pada kajian yang bersifat ilmiah dan objektif.

 

 

 



Endnote :

 

[i] Hilman Latief, Nasr Hamid Abu Zaid Kritik Teks Keagamaan, (Yogyakarta: Elsaq Press, 2003), hal. 33.

[ii] Moch. Nur Ichwan, Meretas Kesarjanaan Kritis al-Quran: Teori Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zaid (Jakarta: Mizan, 2003), hal. 59-60.

[iii] M. Nur Kholis Setiawan, Al-Qur’an Kitab Sastra Terbesar,    (Yogyakarta: Elsaq Press, 2006), hal. 54.

[iv] Lihat Richard E. Palmer, Hermeneutika Teori Baru Mengenai Interprestasi (Yogykarta: Pustaka Pelajar, 2005), hal. 14.  Akar kata hermeneutika berasal dari istilah Yunani dari kata kerja hermēneuein, yang berarti “menafsirkan”, dan kata benda hermēneia, “interpretasi.” Penjelasan dua kata ini membuka wawasan pada karakter dasar interpretasi dalam teologi dan sastra.

[v] Sunarwoto, “Nasr Hamid Abu Zaid dan Rekonstruksi Studi-Studi Al-Qur’an”, dalam Sahiron Syamsuddin, dkk, Hermeneutika Al-Qur’an Mazhab Yogya (Yogyakarta: Islamika, 2003), hal. 104.

[vi] Ibid., hal.105.

[vii] Ibid., hal. 106.

[viii] Moch. Nur Ichwan, Meretas Kesarjanaan Kritis al-Qur’an: Teori Hermeneutika Nasr Abu Zayd (Jakarta: Teraju, 2003), h. 60.

[ix] Al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubra (Vol. x. Heiderabad), h. 241.

[x] Amin al-Khuli, Manahij al-Tajdid fi al-Nahwi wa al-Balaghah wa al-Tafsir wa al-Adab (Kairo: Dar al-Marifah, 1961), h. 308.

[xi] Abu Zayd, Mafhum, h. 12.

[xii] Abu Zayd, Mafhum, h. 13.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[xiii] Nashr Hamid Abu Zayd, Isykaliyyat al-Qira’at wa Alliyat al-Ta’wil, terj. Muhammad Manshur (Yogyakarta: LkiS, 2004), h. 8.

[xiv] Abu Zayd, Isykaliyyat, h. 10.

[xv] Nashr Abu Zayd, al-Tafkir fi al-Zaman al-Tafkir (Kairo: Dar Sina, 1995), h. 133-134.

[xvi] Abu Zayd, al-Tafkir, h. 135.

[xvii] Abu Zayd, Mafhum, h. 38.

[xviii] Abu Zayd, Mafhum, h. 27-28.

[xix] Abu Zayd, al-Nashsh, 92-97

[xx] Abu Zayd, Naqd, h. 125-126.

[xxi] Abu Zayd, “the Textuality,” h. 50

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Abu Zayd, Nashr Hamid, Isykaliyyat al-Qira’at wa Alliyat al-Ta’wil, terj. Muhammad Manshur. Yogyakarta: LkiS, 2004.

 

—————————, al-Tafkir fi al-Zaman al-Tafkir. Kairo: Dar Sina, 1995.

 

Al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubra (Vol. x. Heiderabad).Tth.

 

al-Khuli, Amin, Manahij al-Tajdid fi al-Nahwi wa al-Balaghah wa al-Tafsir wa al-Adab. Kairo: Dar al-Marifah, 1961.

 

Latief, Hilman. Nasr Hamid Abu Zaid Kritik Teks Keagamaan. Yogyakarta: Elsaq Press, 2003.

 

Nur Ichwan, Moch., Meretas Kesarjanaan Kritis al-Quran: Teori Hermeneutika Nasr Hamid Abu Zaid. Jakarta: Mizan, 2003.

 

Nur Ichwan, Moch., Meretas Kesarjanaan Kritis al-Qur’an: Teori Hermeneutika Nasr Abu Zayd. Jakarta: Teraju, 2003.

 

Nur Kholis Setiawan, M., Al-Qur’an Kitab Sastra Terbesar. Yogyakarta: Elsaq Press, 2006.

 

Palmer, E., Hermeneutika Teori Baru Mengenai Interprestasi. Yogykarta: Pustaka Pelajar, 2005.

 

Sunarwoto, “Nasr Hamid Abu Zaid dan Rekonstruksi Studi-Studi       Al-Qur’an”, dalam Sahiron Syamsuddin, dkk, Hermeneutika       Al-Qur’an Mazhab Yogya. Yogyakarta: Islamika, 2003.

 

 

 

 

Cuaca Ekstrim

Wilayah Bekasi dan sekitarnya sejak seminggu lalu, terus menerus diguyur hujan lebat. Akibatnya dapat kita rasakan adanya banjir hampir disebagian besar wilyah Bekasi. Anak sekolah, guru, mahasiswa, dosen, pegawai negeri/swasta maupun pedagang ikut terkena imbasnya, yakni datang terlambat. Berarti jika hujan ini terus mengguyur wilayah Indonesia, tidak hanya Bekasi, dapat kita tebak ada berapa ribu menit yang harus terbuang percuma gara-gara menyalahkan hujan.

Hujan adalah rahmat dari Allah SWT yang harus disyukuri. Sudah jarang kita mendengar suara kodok “bernyanyi”, sekarang kita dapat mendengarnya. Namun disisi lain hujan juga bisa menjadi bencana bagi masyarakat yang tidak menghargai lingkungannya. Oleh karenanya, mungkin jika kita sadar, kita tidak akan menyalahkan hujan untuk melegitimasi kemalasan kita.

Ujian Akhir Semester 1

Mulai hari Sabtu yang lalu, tanggal 7 Desember 2013, Ma’had Annida Al Islamy tingkat Tsanawiyah dan Aliyah telah melangsungkan Ujian Akhir Semester 1 yang akan berakhir pada hari Senin tanggal 17 Desember 2013.

Mudah-mudahan pelaksanaan UAS tersebut dapat berjalan dengan baik dan lancar serta menghasilkan nilai-nilai terbaik bagi setiap siswa/i. Amin

PORSENI PONDOK PESANTREN SE BEKASI

Pondok Pesantren Annida Al Islamy berhasil menjadi juara umum Porseni dan Musabaqah Fahmi al Kutubu turats (MUFAKAT) tingkat Kota Bekasi Tahun 2013. Porseni dan Mufakat tersebut berlangsung pada tanggal 2 sd 3 Maret 2013 di Pesantren Yasfi Pondok Melati Bekasi.

Adapaun juara yang diraih oleh para santri-santriwati Annida Al Islamy ialah :

1.Juara I Putra dan Putri Mufakat cabang Kitab Tafsir (Jalalain)

2. Juara 1 Putra dan Putri Mufakat cabang Kitab Fiqih (Fathul Qorib)

3. Juara 1 Putri Mufakat  cabang Kitab Hadits (Arba’in)

4. Juara 1 Putri Mufakat Kitab Nahwu (Mukhtasor Jiddan)

5.Juara 1 Lomba Marawis

6.Juara 1 Putra Lomba Catur

7.Juara 1 Putra Bola Voli

Porseni dan Mufakat adalah ajang resmi tahunan bagi pesantren di Kota Bekasi dalam menyalurkan bakat para santri serta jalur prestasi bagi santri.

1 Muharram 1434 Hijriyah

Dalam rangka menyambut serta mensyiarkan gema Muharram 1434 Hijriyah kali ini, Pondok Pesantren Annida Al Islamy melaksanakan berbagai kegiatan ilmiyah, diantaranya musabaqoh tilawah al Qur’an, musabaqoh qiraatul kutub, tahfidz al Qur’an, tahfidz alfiah, tahfidz al jurmiyah, lomba pidato, lomba adzan serta kreasi busana muslim.

Gebyar Muharram 1434 kali ini akan diikuti oleh seluruh santri dan santriwati tingkat Tsanawiyah, Aliyah, dan Sekolah Tinggi.

“SELAMAT TAHUN BARU 1434 HIJRIYAH, SEMOGA DI TAHUN BARU INI TINGKAT KEIMANAN KITA TERUS BERTAMBAH”

HAUL X

Dengan Hormat

Bersama ini kami mengundang seluruh siswa/i, mahasiswa/i, alumni, masyarakat/jamaah sekalian untuk dapat menghadiri acara Haul X KH.Muhammad Muhadjirin Amsar yang insya Allah akan dilaksanakan :

Hari/Tanggal  : Ahad, 14 Oktober 2012

Pukul               : 08.00 sd 12.00

Tempat           : Pesantren Annida Al Islamy Bekasi

Jl.Ir.H.Juanda No.124 A Telp.021-8801394 Bekasi

Penceramah    : Dr.KH.Manarul Hidayat

Demikian undangan ini disampaikan. Atas perhatiannya dihaturkan terima kasih

Orientasi Tenaga Teknis

Hari senin, 10 September 2012, STIT Almarhalah Al Ulya menghadiri kegiatan orientasi tenaga pengelola bantuan PTAI di hotel Maharani Jakarta. Acara akan berakhir hari Rabu, 12 September 2012.

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1433 H

Segenap civitas akademika STIT , mengucapkan “Minal Aidin Wal Faizin”. Semoga semangat jihad Ramadhan senantiasa menaungi jiwa bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari segala bentuk Neo-Imperialisme. Merdeka!!!

Dirgahayu ke 67 Republik Indonesia

Segenap civitas STIT AL MARHALAH AL ULYA mengucapkan “Dirgahayu RI ke 67″. Semoga kejayaan negeri ini segera terwujud!!

SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA

Seluruh civitas akademika STIT Al Marhalah Al ‘Ulya, MTs dan MA Annida Al Islamy mengucapkan “Selamat Menunaikan Ibadah Puasa 1433 H”. Semoga ibadah puasa tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya. Amin

1 2 3 8